Teknik Menulis‎ > ‎

Naskah Drama

Menulis Naskah Drama

 

Oleh  Sigit Setyawan

 

Pengantar

Menulis naskah drama untuk pementasan perlu mempertimbangkan beberapa aspek. Yang pertama adalah durasi pementasan. Kita harus menentukan durasi pementasan agar dialog dan adegan yang kita buat tidak terlalu panjang atau pendek. Yang kedua adalah panggung. Luas panggung dan kondisi panggung perlu mendapat perhatian kita terutama ketika kita menentukan jumlah tokoh yang akan muncul dalam suatu adegan.

 

Namun, sering kita jumpai sebuah naskah drama yang dibuat begitu saja tanpa mempertimbangkan kedua hal di atas. Hal itu wajar saja karena naskah itu dibayangkan oleh sang penulis dan produser serta sutradara yang akan menyesuaikan diri dengan naskahnya. Untuk naskah yang sangat bagus atau ditulis oleh sastrawan terkenal, produser dan sutradaralah yang menyesuaikan panggung dan durasinya.

 

Langkah Persiapan

Pertama, tulislah terlebih dahulu ringkasan ceritanya. Ringkasan cerita sebaiknya terdiri dari bagian perkenalan, ketegangan atau konflik, klimaks, dan penyelesaian. Ketegangan dapat berupa munculnya konflik antar tokoh atau konflik batin, dapat pula berupa adegan di mana tokoh utama terancam oleh sesuatu. Sebagai penulis naskah drama kita harus tahu betul di bagian mana keempat hal tersebut ada di dalam cerita.

 

Saya lebih suka berkonsentrasi lebih dulu pada klimaksnya karena menurut saya klimaks adalah inti suatu cerita. Dengan klimaks yang baik, saya berharap penonton menyimpan adegan itu dalam benak mereka ketika pulang ke rumah. Dari klimaks itulah saya memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi dan penyelesaiannya. Anda dapat melakukan hal yang sama, tetapi tidak harus demikian. Temukanlah gaya Anda agar merasa cocok dan senang ketika menulis.

 

Kedua, pilihlah karakter yang kuat untuk protagonis (tokoh utama) dan antagonis (tokoh lawan). Karakterisasi yang kuat akan menolong kita menyampaikan pesan kepada penonton. Antagonis bukan hanya berupa tokoh lawan, dapat pula sebuah peristiwa, khayalan tokoh utama, atau sebuah misteri.

 

Ketiga, pilihlah pendukung tokoh protagonis dan antagonisnya. Tokoh pendukung berfungsi untuk memperkuat pesan, mendukung karakter tokoh utama, menciptakan ketegangan, dan konflik. Ketika menentukan jumlah tokoh, perhatikanlah dua hal di atas: durasi dan luas panggung.

 

Langkah Menulis Naskah

Pertama, buatlah format halaman yang terdiri dari babak, adegan, durasi, tokoh, dan dialog.  Babak menandakan bagian besar cerita, di panggung biasanya menandakan pergantian latar. Adegan menandakan keluar masuknya para tokoh cerita dalam satu babak.

 

Contoh:

 

 

Babak

Adegan

Durasi

Tokoh

Dialog

III

3

5’

Tini

Mas, aku hamil..

Tono

Apa? Jangan berkata macam-macam kamu! Katakan, siapa yang menghamilimu, akan kuhajar dia!

Tini

Mas Tono (menunduk)

Tono

(Terbelalak, buku yang di tangan kanannya terjatuh)

Tini

(Menangis)

 

Kedua, rencanakan berapa durasi untuk memperkenalkan tokoh dan permasalahan, membuat ketegangan dan konflik, klimaks, dan penyelesaiannya. Mulailah menulis apa yang dikatakan para tokohnya.

 

Contoh:  Perkenalan (7’), Permasalahan dan konflik (10’), Klimaks (5), Penyelesaian (2’).

 

Ketiga, evaluasilah. Apakah menurut kita apa yang dikatakan tokoh itu penting untuk menyampaikan permasalahan, memperkuat karakter tokoh utama, atau menyampaikan pesan? Jika ada dialog yang tidak perlu, sebaiknya kita hapus atau ganti.

 

Keempat, cobalah untuk membacanya bersama orang lain. Pada saat pembacaan ini, mintalah masukan mengenai kalimat dan ceritanya.

 

Demikian langkah-langkah yang semoga dapat memudahkan kita membuat sebuah naskah drama untuk pementasan. Ada kalanya kita dapat membayangkan tokoh yang kita tulis itu hidup di benak kita. Sering ketika saya membuat naskah, saya membayangkan siapa yang kira-kira akan memerankannya, sehingga memudahkan saya untuk menambahkan emosi di dalam karakter tokoh.

 

Mari mencoba.

Comments